Kecemasan dan Penderitaan

Tumor merupakan penyakit yang mengkhawatirkan bagi sebagian besar orang. Sehingga penyakit ini menjadi momok yang menakutkan. Bisa dibayangkan perasaan sang penderita dan keluarganya, jika dokter mendiagnostik bahwa sang pasien menderita tumor, apalagi kalau letak tumor tersebut berada pada organ yang sangat vital bagi kehidupan, yaitu otak. Pada prinsipnya, tumor otak adalah neoplasma atau benjolan padat didalam rongga kepala, yang merupakan suatu pertumbuhan abnormal sel-sel di dalam otak atau sumsum tulang belakang.

Tumor otak mencakup semua tumor di dalam tengkorak, tumor ini terjadi akibat pembelahan sel yang abnormal dan tidak terkendali, biasanya di dalam otak berupa neuron, sel-sel glial, jaringan limfatik, pembuluh darah, dan kelenjar merupakan bagian yang bisa terkena tumor otak. (Gambar 1: Potongan otak manusia yang menderita Tumor)

Setiap tumor otak secara inherent serious dan mengancam nyawa karena karakter yang invasif dan infiltrasi dalam ruang terbatas rongga intracranial Tumor otak atau neoplasmaintracranial bisa berupa kanker yang bersifat ganas dan ada juga yang bersifat
jinak. Namun hal ini berbeda dari tumor pada umumnya yang terjadi pada organ yang lain. Semua tumor yang terjadi pada otak akan berakibat fatal.

Tingkat ancaman tergantung pada kombinasi faktor seperti jenis tumor, lokasi, ukuran dari tumor tersebut. Karena otak dilindungi dengan baik oleh tengkorak, deteksi dini tumor otak hanya terjadi ketika alat diagnostik diarahkan pada rongga intracranial. Biasanya deteksi
terjadi pada tingkat parah ketika kehadiran tumor memiliki efek samping yang menyebabkan gejala-gejala yang bersifat fatal.

Gejala Tumor Otak

Gejala neoplasma pada otak dapat dibagi dalam 3 kategori utama:

a). Meningkatnya Tekanan Intracranial (Rongga Otak): hal ini disebabkan oleh pembesaran tumor atau meluasnya edema, yang secara klinis berakibat berupa sakit kepala, muntah (kadang-kadang tanpa mual), kondisi kesadaran yang menurun (mengantuk, koma),
pembesaran pupil mata pada sisi yang menderita (anisocoria), cakram optik menonjol pada pemeriksaan funduskopi mata (papilledema). Walaupun ukuran tumor kecil, tetapi bisa berdampak dan menghalangi perjalanan cairan otak yang pada akhirnya memperparah tekanan didalam intracranial tersebut. Peningkatan tekananintracranial dapat mengakibatkan perpindahan bagian-bagian tertentu dari otak, seperti cerebellar atauuncus temporal, sehingga kompresi batang otak dapat mengakibatkan mematikan.

b). Kelainan fungsi tergantung pada lokasi tumor dan kerusakan yang menyebabkan struktur otak sekitarnya dapat terganggu, berupa kompresi atau infiltrasi. Semua jenis gejala neurologik dapat terjadi, seperti; gangguan kognitif dan perilaku berupa: kehilangan memori, kurangnya, gangguan orientasi, gangguan kepribadian atau emosi perubahan, kelumpuhan, kehilangan rasa, gangguan berbicara, gangguan penglihatan, gangguan penciuman, gangguan pendengaran, kelumpuhan wajah, penglihatan ganda, tetapi gejala yang lebih parah juga mungkin terjadi seperti: kelumpuhan pada satu sisi bagian tubuh. Dengan demikian kelainan fungsi sangat ditentukan oleh letak dan lokasi tumor. Lokasi tumor juga akan menentukan tingkat keparahan efek yang diderita oleh pasien.

c). Iritasi: yang ditandai dengan, kelelahan, tremor, bahkan epilepsi. Gejala diatas diperlihatkan oleh hampir semua penderita tumor otak, baik berupa tumor (neoplasma) maupun tumor ganas (Kanker yang bermetastase).  Sehingga dengan demikian, jika ada gejala awal berupa rasa sakit kepala yang dirasakan dalam waktu yang lama, sebaiknya diperiksakan ke dokter, untuk menegakkan diagnostik lebih awal, untuk mencegah keparahan penyakit dan pengobatan lebih dini.

Cara Memastikan Adanya Tumor Di dalam Otak

Diagnosis ditentukan berdasarkan anamnesis atau wawancara keluhan pasien. Yang dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan klinis penderita serta diakhiri dengan pemeriksaan penunjang berupa: pemeriksaan laboratorium untuk menghilangkan kemungkinan infeksi sebagai penyebab dari gejala, pemeriksaan ophthalmological otolaryngological,electrophysiologicalelectroencephalography (EEG), bahkan dengan alat diagnostik tercanggih yaitu: computed tomography (CT)-scan danMagnetic Resonance Imaging (MRI). (Gambar 2: Tumor nyata terlihat bulat berwarna hijau, deteksi dengan menggunakan MRI).

Diagnosis pasti dari tumor otak hanya bisa dikonfirmasi dengan pemeriksaan histologis sampel jaringan tumor yang diperoleh dengan cara
biopsi otak atau operasi terbuka. Pemeriksaan histologi sangat penting untuk menentukan perawatan yang tepat dan prognosis yang benar.
Pemeriksaan ini, dilakukan oleh ahli patologi, biasanya memiliki tiga tahap: pemeriksaan interoperative jaringan segar, pemeriksaan
mikroskopis awal jaringan disiapkan, dan pemeriksaan tindak lanjut dari jaringan disiapkan setelah imunohistokimia atau analisis genetik.

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Melihat kondisi pasien penderita tumor otak dengan berbagai penderitaannya, tentunya menantang para ahli kedokteran untuk menemukan
suatu pengobatan dengan sebuah harapan menyembuhkan dan menghilangkan penderitaan pasien-pasien tumor otak. Dewasa ini, ada beberapa obat dan metode pengobatan penderita penyakit tumor otak.

Jika tumor otak tersebut merupakan tumor ganas atau bermetastase, para dokter akan melakukan pengobatan dengan Stereotactic  radiosurgery (SRS) atau bahkan Wholebrain Radiation Therapy (WBRT), hal ini dilakukan dengan pemberian radiasi sinar khusus kesebagian atau bahkan keseluruh otak untuk mencegah perkembangbiakan sel-sel tumor yang berada didalam otak tersebut.

Selain dengan cara radiasi, disertai pula pemberian chemotherapy yang dosisnya akan disesuaikan dengan besarnya tumor serta tingkat penyebarannya. Selama ini chemotherapy yang banyak digunakan untuk tumor otak adalah Temozolomideyang pemberiannya setiap 5 hari sekali (Lancet Oncol 2001; 2: 552–60). Selama proses pengobatanchemotherapy juga akan disertai dengan monitoring otak dengan menggunakan perangkap alat yang disebut MRI (Magnetic Resonance Imaging), untuk melihat perkembangan dan kemajuan pengobatan. (Gambar 3: Ilustrasi pengobatan tumor dengan Chemoterapy)

Sampai dengan dewasa ini ketiga jenis pengobatan diatas, baik berupa cara operasi, radiasi, mapun chemotherapy masih memiliki keterbatasan yaitu tingkat toksisitas obat yang sangat tinggi, serta efek samping yang menyertainya masih besar, dan tingkat kemampuan hidup 5 tahun (five survive level) yang masih rendah.

Dimasa depan para ahli akan mengembangkan sistem pengobatan gene therapy (Gambar 4: Ilustrasi metode pengobatan Gene Therapy), dengan suatu harapan keterbatasan pengobatan dewasa ini dapat diatasi.

About The Author

Taruna Ikrar

Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf. Di dunia Internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg mempopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012 . Saat ini Dr Ikrar merupakan salah satu tim spesialis dan analis di University of California, School of Medicine, Irvine, CA, USA

Leave a Reply