Hepatitis C Penyakit Menahun Yang Mematikan

Hepatitis C adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV)  yang menjangkiti hati, Infeksi dapat bersifat akut dan berkembang menjadi kronis (menahun) dengan ditandai jaringan parut hati (fibrosis), dan jaringan parut tersebut dapat berkembang ke seluruh jaringan hati (sirosis). Jika keadaan hati sudah sampai pada tingkat sirosis, selanjutnya akan berkembang sebagai gagal hati, termasuk kanker hati dan mengancam kehidupan penderita. (Gambar 1: Illustrasi Virus Hepatitis tipe C )

Virus Hepatitis C telah menyebar keseluruh dunia. Menurut laporan WHO (badan kesehatan dunia), penyakit ini telah menjangkiti umat manusia, dan diperkirakan sekitar 270 Juta terinfeksi hepatitis C. Saat ini belum ada vaksin terhadap Virus hepatitis C. (Gambar 2: Peta penyebaran penyakit hepatitis C di seluruh dunia, sumber Science 2011)

Faktor-faktor yang dipercaya dapat mempengaruhi perkembangan penyakit ini adalah: Umur, jenis kelamin (laki-laki memiliki perkembangan penyakit lebih cepat dari wanita), konsumsi alkohol (mempercepat kerusakan hati), Infeksi bersama HIV (terkait dengan tingkat immunitas atau daya tahan tubuh).

Gejala Klinis

Hepatitis C adalah penyakit sistemik dan pasien mungkin mengalami manifestasi klinis mulai dari gejala ringan hingga berat. Secara umum
tanda-tanda dan gejala yang berhubungan dengan hepatitis C adalah:perasaan lelah yang menahun, gejala-gejala mirip flu, nyeri sendi,  gatal-gatal, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, mual-mual, dan depresi. (Gambar 3 Perbandingan Struktur Hati Normal [a] dan struktur hati yang rusak [b])

Secara khusus, gejala hepatitis C yang kronis telah berkembang menjadi parah, dengan gejala yang muncul sebagai akibat kegagalan fungsi
hati, sehingga fungsi hati mengalami penurunan. Hal ini berdampak pada peningkatan tekanan dalam sirkulasi hati (kondisi yang dikenal sebagai hipertensi portal). Kemudian dilanjutkan dengan munculnya tanda-tanda dan gejala kerusakan hati, seperti; penumpukan cairan di perut (ascites)pembesaran pembuluh vena yang terlihat pada leher (varises)warna kuning pada seluruh tubuh (sakit kuning/ikterus), dan sindrom penurunan kemampuan berpikir yang dikenal sebagai ensefalopati hati.

Ensefalopati hati ini, merupakan efek samping dari kegagalan fungsi hati, dan berkompensasi berupa akumulasi amonia dan zat lain. (Gambar 4: Penderita hepatitis memperlihatkan gejala kuning pada kulit dan mata)

 

Penularan dan Pencegahan Penyakit Hepatitis C

Seperti pada umumnya berbagai penyakit infeksi lainnya, pencegahan lebih dilakukan sebelum penyakit yang mematikan ini menular. Berdasarkan cara penularan penyakit ini melalui transfusi darah, penggunaan jarum
suntik yang berulang (khususnya pada orang-orang ketergantungan narkotik), penularan ke bayi pada ibu yang terinfeksi virus hepatitis C,
transmisi melalui hubungan seks, dan berbagai alat atau barang pribadi yang terkontaminasi dengan Virus Hepatitis C. Sehingga penularan
penyakit ini dapat ditularkan melalui paparan pada darah, baik melalui
kulit atau dengan injeksi.

Selanjutnya perlu dilakukan pencegahan dari penularan virus yang mematikan ini dengan jalan, untuk transfusi darah, perlu dilakukan screening secara ketat sehingga penularan penyakit ini lewat transfusi darah ke pasien dapat dicegah. Demikian pula, disarankan untuk tidak menggunakan jarum suntik secara berulang, baik ditempat pelayanan kesehatan, maupun pada orang-orang ketergantungan narkotik.

Pada ibu yang menyusui dan sedang hamil, perlu dilakukan pemeriksaan dini, dan pencegahan selama kehamilan dari berbagai faktor yang dapat terkontaminasi virus Hepatitis C ini. Senantiasa menggunakan pelindung berupa alat preventif bagi orang yang sering berganti-ganti pasangan seksual. Demikian pula untuk berbagi barang pribadi (seperti pisau cukur atau sikat gigi) jangan menggunakan berulang atau digunakan oleh lebih dari satu orang.Dari semua aspek pencegah tersebut, masyarakat perlu diberikan pemahaman yang mendalam tentang perlunya hidup sehat dan bersih.

Harapan Penyembuhan Hepatitis C

Virus Hepatitis C begitu berbahaya dan dapat berisiko menimbulkan kanker hati. Mereka yang mengalamisirosis atau kanker hati mungkin memerlukan pencangkokan hati. Selama ini untuk pengobatan penyakit Hepatitis ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi
dan mahal, serta harus segera diobati, sebab jika terlambat bisa berakibat fatal.

Saat ini, para dokter melakukan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan (interferon dan ribavirin) selama 48 minggu durasi pengobatan. Dari pengobatan dengan menggunakan anti virus tersebut dilaporkan terjadi peningkatan penyembuhan hanya
sekitar 17 persen penderita menahun yang kronis. Jika pengobatan selama fase infeksi akut memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi (mendekati 90 persen).

Baru-baru ini telah ditemukan suatu anti virus untuk mengobati penyakit kronis hepatitis C. (Hasil tersebut dipresentasikan pada
International Liver Congress di Jerman, dan hasilnya dipublikasikan di journal of science, edisi april 2011). Obat anti virus tersebut telah dilakukan uji klinik fase III pada pasien dan menunjukkan penyembuhan yang berarti. Obat anti virus ini bekerja dengan menghambat enzyme khusus (enzyme polymerase) yang bisa menghambat pertumbuhan Virus Hepatitis C, yang selanjutnya
dapat membunuh virus-virus tersebut didalam tubuh penderita. (Obat tersebut diberi nama Cyclophilin A yang dikombinasikan dengan alisporivir), semoga dengan penemuan ini, akan membantu menghilangkan penderitaan jutaan umat manusia diseluruh dunia.

About The Author

Taruna Ikrar

Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf. Di dunia Internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg mempopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012 . Saat ini Dr Ikrar merupakan salah satu tim spesialis dan analis di University of California, School of Medicine, Irvine, CA, USA

Leave a Reply