Epilepsi merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling umum di seluruh dunia yang diderita oleh jutaan umat manusia. Dalam ilmu kedokteran, epilepsi didefinisikan sebagai suatu gangguan kesehatan yang disebabkan kelainan fungsional otak, dan ditandai dengan gejala neurologis berupa kejang berulang. Kejang tersebut disebabkan oleh aktivitas listrik otak yang abnormal.

Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan dan kecemasan yang dirasakan oleh penderita dan keluarganya. Perasaan cemas itu diakibatkan oleh trauma atas serangan kejang yang tiba-tiba, serta menyebabkan penurunan kesadaran sebagian atau secara total pada saat serangan kejang ini. Dan tentunya kondisi ini akan sangat berbahaya, jika serangan terjadi pada saat penderita tersebut sedang mengendarai kendaraan di jalan raya, karena tentunya dapat berakibat suatu kecelakaan, bukan hanya berakibat pada penderita tetapi juga bisa berdampak pada orang banyak.

Kondisi ini, akan menjadi trauma tersendiri bagi penderita, bahkan akan menimbulkan kecemasan yang mendalam, karena takut serangan kejang (Epilepsi) ini akan menyerang lagi. (Gambar 1: Ilustrasi Serangan kejang yang menimbulkan gangguan sirkuit listrik di dalam otak).

Gejala Epilepsi
Epilepsi mencakup sejumlah gejala dengan tanda utamanya berupa kecenderungan untuk kejang berulang. Kejang ini dapat diklasifikasikanberdasarkan dua kelompok umum, yaitu: Kejang parsial, dan kejang umum yang mengenai seluruh tubuh penderita.

Pada jenis kejang/epilepsi umum; yang mengenai seluruh tubuh penderita, akan menunjukkan gejala berupa; kejang dimulai secara bersamaan di kedua belahan otak. Gambar 2: Penampakan serangan kejang umum yang bersifat tonik dan klonik.

Selanjutnya penderita akan kehilangan kesadarannya secara total, sehingga tidak bisa mengingat apapun yang terjadi setelah kejadian
kejang tersebut. Gejala kejang umum dapat bervariasi, tergantung pada jenisnya. Dalam istilah neurologi, kejang jenis umum ini diistilahkan
dengan kejang (tonik-klonik atau grand-mal), selama fase serangan kejang akan memperlihatkan gejala berupa:

-Penurunan kesadaran, bahkan kehilangan kesadaran terhadap sekitarnya.
-Memperlihatkan wajah menangis tanpa alasan.
-Menggigit lidah atau bibir, karena terjadi kekakuan gerahan.
-Otot-otot wajah lengan dan kaki menjadi kaku selama fase kejang ini.
-Terlihat pucat diwajah.
-Tersentak-sentak, bahkan kehilangan kontrol atas kandung kemih atau usus, sehingga pada saat yang bersamaan akan mengeluarkan kencing bahkan tinja serta air liur, yang terjadi diluar kesadaran penderita.

Dilain sisi, jenis epilepsi parsial, menunjukkan gejala kejang yang parsial, yang diyakini akibat suatu gangguan rangsangan sistem saraf
pusat, yang gejalanya tergantung pada daerah otak yang mengalami gangguan. Kejang parsial ini, ditandai, pada saat serangan kejang
terjadi, penderita tetap sadar, dengan gejala tambahan berupa:

– Penderita akan merasakan perubahan yang aneh dalam dirinya.
– Perubahan sensitivitas pengecap, penciuman, dan penglihatan.
– Terasa kesemutan atau bahkan seperti tertusuk-tusuk jarum di bagian tubuh terutama di lengan dan kaki.
– Menyentak-nyentak pada otot disalah satu sisi atau bagian tubuh.
– Emosi yang tidak stabil, bahkan muncul perasaan takut yang mendalam.
– Bahkan dapat muncul pemikiran Halusinasi.

Mekanisme Munculnya Kejang
Selama bertahun-tahun gejala kejang masih menjadi tanda tanya para ilmuan kedokteran, namun menjadi keyakinan bahwa kejang tersebut
diakibatkan oleh adanya loncatan atau stimulasi otak, khususnya di daerah otak yang disebut thalamus. Hasil dari beberapa percobaan mendukung dugaan ini, Sebagai contoh, stimulasi listrik thalamus pada mamalia, akan menghasilkan gelombang EEG pada otak, persis seperti orang yang menderita epilepsi. (Gambar 3: Ilustrasi rekaman EEG otak pada penderita epilepsi, A. memperlihat pemasangan elektroda dikepala pasien, sedang B. Gambar Electro-Encephalo Graphy pada penderita tersebut).

Mekanisme yang menghasilkan kejang dewasa ini diyakini melibatkan perubahan di sirkuit antara talamus dan korteksOtak. Dengan konsep utama, adalah bahwa kelainan fungsi sirkulasi saraf (neuron) di otak yang selanjutnya menghasilkan keadaan gangguan fungsional pada aktivitas otak tersebut dan mengakibatkan episode abnormal berupa kejang berulang.

Pengobatan Epilepsi
Pengobatan Epilepsi, ditekankan pada perbedaan jenis epilepsi yang menimpa seseorang. Umumnya ditekankan, bahwa diferensiasi akurat antara kejang umum dan parsial sangat penting dalam menentukan perawatan yang tepat.

Pada saat terjadi serangan kejang umum yang bersifat tonik-klonik, dilakukan untuk mencegah penderita dari luka-luka akibat serangan kejang tersebut. Caranya dengan memindahkan mereka dari tempat yang keras, atau menempatkan sesuatu yang lembut di bawah kepala, serta memperbaiki posisi penderita ke arah posisi pemulihan. Kemudian, jika penderita terlihat muntah, muntahan tersebut harus dibiarkan menetes sisi mulut penderita dengan maksud muntahannya tidak masuk kedalam dan menghambat jalan napas (sehinga mencegah penderita dari kondisi tersedak). Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, atau jika lebih dari satu kali kejang dalam sehari, dan disertai kehilangan kesadaran, pasien tersebut membutuhkan pertolongan darurat di rumah sakit.

(Gambar 4: Contoh cara pertolongan penderita epilepsi pada saat serangan terjadi).

Pengobatan terbaik setelah serangan mereda adalah pemberianantikonvulsi (anti kejang). Ada beberapa obat kimia yang dapat digunakan, yaitu: carbamazepine (merek dagangnya Tegretol),clorazepate
(Tranxene), clonazepam (Klonopin), ethosuximide (Zarontin), felbamate
(Felbatol), fosphenytoin (Cerebyx), gabapentin (Neurontin), lacosamide
(Vimpat), lamotrigin (Lamictal), levetiracetam (Keppra), oxcarbazepine
(Trileptal), fenobarbital (luminal), phenytoin (Dilantin), pregabalin
(Lyrica), primidone (Mysoline), tiagabine (Gabitril), topiramate
(Topamax), semisodium valproate (Depakote
), asam valproik (Depakene), dan zonisamide (Zonegran).

Pengobatan epilepsi terkadang akan dibutuhkan pengobatan yang bersifat seumur hidup dan dapat memiliki efek besar pada kualitas hidup.
Sehingga perlu diperhatikan betul prinsip pengobatan dengan menggunakan antikonvulsi ini, yaitu mengefektifkan penggunaan obat, dan meminimalkan efek samping obat, sehingga tingkat kualitas dan keseimbangan hidup pasien akan terjaga dengan baik.

Selain dengan menggunakan antikonvulsi, perawatan lainnya, adalah operasi (Surgery Epilepsy) merupakan pilihan bagi pasien yang kejang tetap resisten terhadap pengobatan dengan obat-obat antikonvulsi. Selain itu, juga dapat digunakan stimulasi listrik otak, yang digabung dengan penggunaan obat-obatan anticonvulsant. Akhir-akhir ini, para ahli juga percaya akan keefektifan pengobatan alternatif atau komplementer terapi, yaitu; akupunktur, intervensi psikologis, serta vitamin atau diet.

About The Author

Taruna Ikrar

Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf. Di dunia Internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg mempopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012 . Saat ini Dr Ikrar merupakan salah satu tim spesialis dan analis di University of California, School of Medicine, Irvine, CA, USA

Leave a Reply