Gambar 1 : Ilustrasi-Kualitas-Tidur


Gambar 1 : Ilustrasi-Kualitas-Tidur

KabariNews – Tidur merupakan salah satu fungsi penting dari otak, sehingga jika fungsi Tidur terganggu akan menyebabkan masalah pada kesehatan dan kualitas kehidupan secara menyeluruh. Pemahaman tentang proses tidur dan terbangun akan mempengaruhi dalam identifikasi dan klasifikasi berbagai macam gangguan tidur.

Gambar 1: Ilustrasi Kualitas Tidur)

Tahapan tidur tersebut, didasarkan pada tahapan berikut: Penilaian tahapan tidur secara khusus dengan menggunakan kondisi terbangun menuju tidur, terbagi atas empat tahap tidur, yaitu: non-gerakan mata yang cepat “(Non Rapid eye movement: NREM)”, hingga tahap tidur “(rapid eye movement: REM)”.

Gambar 2 Tahapan Tidur Menurut Neurosains

Gambar 2 Tahapan Tidur Menurut Neurosains

Pada saat tahapan 1: fase terjaga atau bangun, tonus otot mata biasanya tinggi, dengan gerakan mata yang cepat. Sedangkan pada tahap tidur ditandai dengan gerakan mata bergulir dengan reaktivitas terhadap rangsangan luar tubuh yang menurun, dan mengalami penurunan konsentrasi. Tahap selanjutnya atau tahap 2: dengan menggunakan EEG akan terbaca latar belakang dengan tonus yang rendah sampai sedang dan disertai adanya “spindle” tidur pada bacaan EEGnya. Dilanjutkan pada Tahap 3; ditunjukkan dengan adanya amplitudo yang tinggi (0 sampai 2 Hz) frekuensi delta yang menempati 20 persen sampai 50 persen dari latar belakang bacaan EEG. Kemudian Tahap 4 mirip dengan tahap 3, kecuali disertai dengan tonus tinggi dan gelombang delta yang membentuk minimal 50 persen dari hasil bacaan EEG. Tahap 3 dan 4 ini, sering digabungkan dan disebut sebagai tahapan tidur nyenyak. Kondisi tubuh dalam fase tertidur nyenyak, bisa dirasakan dengan: detak jantung dan tingkat pernapasan diperlambat dan teratur.

(Gambar 2: Tahapan Tidur Menurut Neurosains)

Gangguan tidur merupakan masalah umum yang mengenai banyak orang. Gangguan ini dapat menyebabkan kesusahan dan ketidaknyamanan, fungsi siang hari terganggu, dan komplikasi serius.

Mekanisme Tidur Pada Sistem Saraf

Gambar-3-Efek-kesehatan-tubh-akibat-gangguan-tidur

Gambar-3-Efek-kesehatan-tubh-akibat-gangguan-tidur

Keadaan terjaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim (Ascending Reticular Activity System: ARAS). Aktifitas ARAS menentukan kualitas tidur seseorang. Sistem ARAS ini sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti sistem serotoninergik, noradrenergik, kholonergik, histaminergik, dan hormonal.

(Gambar 3: Efek kesehatan tubh akibat gangguan tidur)

Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisma asam amino trypthopan. Dengan bertambahnya jumlah tryptopan, maka jumlah serotonin yang terbentuk juga meningkat, dan akan menyebabkan keadaan mengantuk atau tidur. Bila serotonin dari tryptopan terhambat pembentukannya, maka terjadikeadaan tidak bisa tidur/jaga. Menurut beberapa peneliti lokasi yang terbanyak sistem serotogenik ini terletak pada nukleus raphe dorsalis di batang otak, yang mana sangat berhubungan dengan aktifitas serotonis dinukleus raphe dorsalis dengan tidur REM.

Sistem Adrenergik juga sangat berpengaruh terhadap kualitas tidur. Sistem adrenergic ini ditentukan oleh system saraf yang mengandung norepineprin dan terletak di badan sel saraf pada batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat mempengaruhi penurunan atau hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi peningkatan aktifitas neuron noradrenergik akan menyebabkan penurunan yang jelas pada tidur REM dan peningkatan keadaan jaga.

Stimulasi jalur kholihergik ini, mengakibatkan aktifitas gambaran EEG seperti dalam keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi, sehingga terjadi pemendekan latensi tidur REM.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah sistem histaminergik, yaitu histamine tubuh yang berpengaruhi kemampuan tidur. Dan yang terakhir adalah Sistem hormone khususnya pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormon seperti ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon ini masing-masing disekresi secara teratur oleh kelenjar pituitary anterior melalui hipotalamus patway. Sistem ini secara teratur mempengaruhi pengeluaran neurotransmiter norepinefrin, dopamin, serotonin yang bertugas menagtur mekanisme tidur dan bangun.

Penemuan Terbaru Terhadap Pemahaman Tidur

Gambar 4 Neuron Pada Hippothalamus yang menyandi MCh sebagai faktor penentu kualitas tidur

Gambar 4 Neuron Pada Hippothalamus yang menyandi MCh sebagai faktor penentu kualitas tidur)

Baru-baru ini, tim peneliti otak dari university of California, yang dipimpin oleh Dr. Ikrar dkk, menemukan mekanisme penting dalam hubungan tidur dan faktor histaminergik dan hormonal yang sangat menentukan proses tidur. Penemuan tersebut di publikasikan di Journal Physiology edisi 2014 “Histamine inhibits the melanin-concentrating hormone system: implications for sleep and arousal”
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1113/jphysiol.2013.268771/abstract.

Pada penemuan tersebut dijelaskan bahwa: (Melanin-concentrating hormone: MCH) diketahui mengatur berbagai fungsi fisiologis yang berhubungan degnan regulasi tubuh terhadap fungsi metabolisme makanan, kecemasan, depresi, persaan dihargai, dan relaksasi tubuh. Penelitian terbaru telah mengungkapkan bahwa neuron (Melanin-concentrating hormone: MCH) menerima proyeksi dari beberapa daerah otak dan mempromosikan serta merupakan bagian terintegral dari pengaturan Irama tidur yang dilihat pada gerakan mata sewaktu tidur (rapid eye movement=REM) tidur.

(Gambar 4: Neuron Pada Hippothalamus yang menyandi MCh sebagai faktor penentu kualitas tidur)

Tim kami membuktikan dengan menggunakan teknik Laser Photostimulation, Neuropharmacology, Transgenetik protein di otak. Dengan teknik transgenik, otak yang mengalami induksi (Melanin-concentrating hormone: MCH) akan mendapatkan label protein neuron atau sel sarafnya, sehingga mempengaruhi reseptor (histamin-3 reseptor: H3R). Reseptor ini, yang bertanggung jawab memberikan rangsangan tidur. Rekaman elektrofisiologi di otak transgenik ZsGreen yang secara khusus bertanggung jawab dalam menginduksi neuron, menunjukkan bahwa histamin sangat menghambat (Melanin-concentrating hormone: MCH).
Selanjutnya dalam konteks molecular efek kehadiran intraseluler hormon tersebut merupakan sebuah faktor pendukung efek penghambatan histamin atau faktor yang sangat penting dan berpengaruh terhadap proses dan tahapan kualitas tidur.

Dengan penemuan tersebut, merekomenasikan jika ingin mendapatkan kualitas tidur yang baik, diupayakan untuk mengatur aktivitas dan keseimbangan hormonal tubuh, khususnya Hormon jenis MCH dan kadar hitamin tubuh, dengan keseimbangan tersebut menjadi kunci peningkatan kualitas tidur, dan sekaligus menjadi faktor yang sangat penting terhadap kualitas kehidupan dan kesehatan seseorang.

About The Author

Taruna Ikrar

Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf. Di dunia Internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg mempopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012 . Saat ini Dr Ikrar merupakan salah satu tim spesialis dan analis di University of California, School of Medicine, Irvine, CA, USA

Leave a Reply