Para ilmuwan dewasa ini telah membuktikan, bahwa autisme disebabkan  secara dominan oleh faktor genetik. Walaupun pada dasarnya, autisme disebabkan oleh berbagai kemungkinan lain. Autisme sangat terkait dengan agen atau zat yang menyebabkan cacat lahir, seperti; logam berat, pestisida atau vaksin tertentu yang mengandung logam berat seperti Hidrogenium. Prevalensi autisme diseluruh dunia diperkirakan sekitar 1-2 anak per 1000 kelahiran.

Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang sangat bervariasi dengan gejala awal muncul pada masa bayi atau masa kanak-kanak, dan kemudian berkembang menjadi autisme yang sulit dikendalikan.

Orang-orang dengan autisme memiliki gangguan sosial dan sering mengalami kehilangan intuisi tentang orang lain dan linkungannya. Gangguan autisme hampir selalu berkembang sebelum usia tiga tahun dan ditandai dengan komunikasi verbal dan non-verbal, serta interaksi sosial yang terganggu.

Secara umum, anak-anak dengan autisme sering mengalami kesulitan ekstrim dalam mengembangkan hubungan yang normal dengan orang lain. Mereka cenderung untuk tidak berbagi dengan kepentingan rekan-rekan mereka.

Dalam banyak kasus anak-anak ini tidak mampu menafsirkan isyarat komunikasi non-verbal, seperti ekspresi wajah. Kebanyakan orang dengan autisme memiliki beberapa gangguan dalam perkembangan kemampuan berbahasa dan bahkan tidak pernah berbicara sama sekali. (Gambar 1: Ilustrasi Anak Autisme)

Penyebab Autisme

Telah lama diprediksikan, bahwa penyebab umum autisme adalah faktor genetik, kognitif, dan gangguan saraf. Gangguan perkembangan saraf merupakan degradasi pertumbuhan dan perkembangan otak atau sistem saraf pusat, yang berarti; gangguan fungsi otak yang mempengaruhi emosi, kemampuan belajar, dan memori. Hal tersebut berawal pada masa bayi dan masa kanak-kanak baik berupa gangguan perkembangan ataupun berupa cedera otak. Demikian pula dapat disebabkan oleh mutasi genetik, seperti; Down syndrome atau Syndrome fragil lingked-X. (Gambar 2: Ilustrasi Mutasi genetik yang menimbulkan kelainan otak dan autisme)

Selain penyebab diatas, autisme juga dapat diakibatkan infeksi. Infeksi virus termasuk rubella selama trimester pertama kehamilan, telah dibuktikan sebagai penyebab autisme.

Gejala Autisme

Gejala autisme sangat bervariasi; pada bayi dapat terlihat relatif normal selama beberapa bulan pertama kehidupan sebelum menjadi kurang responsif terhadap orang tua mereka dan rangsangan lainnya. Mereka mungkin mengalami kesulitan dengan makan atau pelatihan toilet, tidak bisa tersenyum sebagai respon atas wajah orangtua mereka, dan bahkan melakukan perlawanan untuk didekap.

Ketika mereka memasuki masa balita, menjadi semakin jelas bahwa anak autisme ini, memiliki dunia sendiri. Mereka tidak bermain dengan anak lain atau mainan dengan cara normal, melainkan tetap menyendiri dan lebih memilih untuk bermain sendiri.

Keterampilan komunikasi verbal dan nonverbal, seperti berbicara dan ekspresi wajah, tidak mengalami perkembangan. Gejalanya mulai dari sifat tidak peduli dan bisu terhadap respon sekitar.

Bahkan dalam kondisi yang ekstrim, anak autisme mengalami kelainan prilaku, berupa: menatap, mengepakkan tangan atau lengan dan tangan, berjalan berjingkat-jingkat, bergoyang, mengamuk dengan postur yang aneh, serta perilaku yang hiperaktif. (Gambar 3: Bagian Struktur otak yang dapat mengalami kerusakan dan berefek sebagai Autisme)

Pengobatan dan Penanganan Autisme

Dengan melihat faktor pencetus atau penyebab autisme, serta memperhatikan perkembangan gangguan autisme ini, sehingga dibutuhkan
intervensi dini yang tepat dan cepat. Tujuan utama saat merawat anak-anak dengan autisme adalah untuk mengurangi defisit yang terkait
dan kesusahan keluarga, dan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian fungsional anak tersebut. (Gambar 4: contoh penanganan autisme)

Dalam pengobatan ataupun penatalaksanaan autisme, dibutuhkan kerjasama orang tua, keluarga dan dokter, dalam memberikan penanganan yang terbaik bagi anak tersebut. Bahkan dalam kebanyakan kasus, orang tua didorong untuk merawat anak tersebut di rumah.

Demikian pula dalam pendidikannya, dibutuhkan kelas atau program khusus, sehingga perilaku anak autisme tersebut, dapat berkembang dalam mengikuti perkembangan kemampuannya yang lebih baik. Karena kompleksitas perilaku anak autisme ini, sehingga orang tua harus dididik dalam teknik perilaku supaya mereka dapat berpartisipasi dalam semua aspek perawatan anak dan pengobatannya.

Selain terapi perilaku, obat juga dapat direkomendasikan untuk mengobati gejala-gejala tertentu seperti kejang, hiperaktif, perubahan mood yang ekstrim, atau perilaku yang merugikan diri sendiri. Obat yang dapat digunakan, misalnya antipsikotikluminalvalium, danamitriptamin. Dimana obat-obat ini, tentunya harus dengan resep dan pengawasan
dokter. Sedangkan bagi autisme yang tercetus akibat mutasi genetik, selain pengobatan gejalanya yang akut, dipersiapkan dimasa depan dengan teknik pengobatan gene therapy.

About The Author

Taruna Ikrar

Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf. Di dunia Internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg mempopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012 . Saat ini Dr Ikrar merupakan salah satu tim spesialis dan analis di University of California, School of Medicine, Irvine, CA, USA

Leave a Reply