Dalam konteks kehidupan manusia, terdapat bukti, manusia dapat hidup lebih dari 100 tahun. Menurut Guinness Book of World Records, ada beberapa orang yang hidup diatas 100 tahun. Ada Calment Jeanne dari Perancis (1875-1997), yang meninggal pada usia 122 tahun dan 164 hari. Dari Jepang terdapat nama Shigechiyo Izumi yang meninggal dalam usia 120 tahun. Demikian pula Maria de J (1894-2009) dari Amerika. Secara empiris, pada prinsipnya manusia bisa hidup lebih dari 100 tahun. Lalu mengapa manusia pada umumnya meninggal sebelum usia 100 tahun?

Penyebab Kematian

Untuk mendapatkan tubuh sehat dan umur panjang, orang melakukan banyak hal. Mulai dari olahraga, menyantap makanan tambahan, sampai bedah kosmetik untuk mengencangkan kulit yang mulai keriput. Saat ini kelebihan gizi yang mengakibatkan tingginya prevalensi penyakit degeneratif seperti jantung, kanker, kencing manis, reumatik sudah dirasakan sampai di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Belum lagi akibat yang ditimbulkan oleh lingkungan yang tercemar, kesalahan pola makan dan gaya hidup yang justru merangsang tumbuhnya radikal bebas yang merusak tubuh.

Dalam ilmu biologi, mekanisme kematian dimulai dari kematian sel secara apoptosis yang sesungguhnya berada di dalam inti sel, berupa gen ced-3 dan ced-4 (ced, cell death). Gen pro-apoptosis ini mengkode sintesis berbagai proteaseyang disebut sebagai caspases (cysteine-dependent aspartatespecific protease) besar peranannya dalam prosescascade of proteases (proteolitik intrasel) pada waktu terjadinya apoptosisCaspases berada dalam sel dalam bentuk enzim zomogen yang tidak aktif, tetapi sewaktu-waktu dapat diaktifasi menjadi aktif dan menyebabkan proteolitik intrasel. Pada sel manusia, sudah dapat diidentifikasi sekitar 14 enzim caspases, sebagian bersifat sebagai inisiator pro-apoptotik dan sebagian lagi sebagai inhibitor yang bersifat anti-apoptotik.

Protein ced-3 dan ced-4 yang dibentuk oleh gen ced-3 dan ced-4, merupakan efektor terakhir yang akan menstimulasi proses apoptosis. Proses apoptosis dapat teraktifasi melalui jalur ekstrinsik (reseptor TNF dan Fas), dapat pula melalui jalur intrinsik (cytochrome-c mitokondria). Melalui jalur ekstrinsik, berbagai sinyal intrasel – seperti protein death domains (DD) dan death effector domains (DED) akan mengaktifasi caspase 8, selanjutnya sampai pada caspase-4 dan mengaktifasi caspase-3 sebagai efektor proses apoptosis. Jalur intrinsik akan meneruskan sinyal cytochrome-c yang keluar dari mitokondria melalui protein sinyal intrasel Bcl-2 yang bersifat antiapoptosis atau melalui protein sinyal Bax yang bersifat proapoptosis untuk mengaktifasi caspase-9. Apabila Bcl-2 lebih dominan dari Bax, maka caspase-9 yang diaktifasi akan berikatan dengan caspase-4, sehingga mencegah aktifasi caspse-3 dan proses apoptosispun tidak terjadi.

Tetapi apabila protein Bax lebih dominan, maka sinyal apoptotik akan diteruskan melalui caspase-9 yang akan mengaktifasi langsung caspase-3 sebagai efektor apoptosis dan diakhiri dengan kematian sel-sel.

Dalam aspek klinis, gangguan pada aliran darah dan oksigenase organ-organ vital tubuh, kemudian dilanjutkan dengan terjadinya kekurangan oksigen dan kematian organ-organ tubuh, khususnya: Jantung dan otak. Dalam istilah medis, kematian dibagi atas kematian jantung dan kematian otak. Setelah kematian otak maka orang tersebut telah dinyatakan mati yang sesungguhnya.

Penelitian Tentang Harapan Hidup Manusia

Seperti telah dilakukan penelitian oleh Stephen Helfand, mengurangi kalori hingga 30% atau hingga sedikit di atas level kekurangan nutrisi bisa mengurangi risiko penyakit jantung, kanker hingga setengahnya dan meningkatkan usia hidup. Diet eskstrim itu bisa memberikan tambahan 25 tahun rata-rata usia hidup warga Inggris yang bisa mencapai 100 tahun. Walau begitu peningkatan harapan hidup itu perlu usaha keras. Masing-masing individu harus melakukan diet khusus terutama dari protein susu atau minyak jagung. Itu untuk membuat kondisi beberapa tingkat di atas malnutrisi serta membutuhkan berbagai vitamin dan suplemen mineral.

Prediksi itu didapatkan dari penelitian selama 20 tahun terhadap monyet yang merupakan binatang paling mirip manusia. Penelitian itu menunjukkan adanya efek diet kalori dalam kesehatan dan harapan hidup. Ilmuwan mendapati tingkat daya hidup monyet dengan diet kalori, tiga kali lebih tinggi dibandingkan yang normal. Hal itu diyakini berlaku sama pada manusia. Tim dari University Wisconsin yang mempublikasikan penemuan itu di journal Science memulai penelitian pada 1989. Sebelumnya diet itu memiliki pengaruh pada tikus dan diketahui berpengaruh pada mamalia yang lebih besar.

Sebagaimana diketahui kura-kura merupakan salah satu hewan yang berumur panjang. Kura-kura bisa mencapai umur 350 tahun dan konon burung bangau pun memiliki umur panjang, tapi tidak sepanjang umur kura-kura. Bandingkan dengan umur manusia yang rata-rata hanya mencapai 60-80 tahun. Diduga sebabnya karena kebiasaan dengan gerakan khusus pada kaki, yang mungkin bisa ditiru manusia berupa gerakan berenang dan olah raga yang teratur dan optimal.

Brown University berhasil mengidentifikasi mekanisme sel yang suatu saat bisa membantu memerangi proses penuaan. Penemuan itu menambah jawaban atas potongan teka-teki yang sebagian sudah terpecahkan pada tahun 2000 lalu. Helfand, pertama menemukan mutasi pada gen INDY(“I’m Not Dead Yet”) yang dapat memperpanjang umur lalat buah pada 2000 (Gambar 1). Ia melakukan penelitian selanjutnya, menyangkut gen INDY untuk mengurangi radikal bebas yang dapat mempengaruhi proses penuaan. Penemuan itu memiliki efek samping kecil atau tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan kualitas kehidupan lalat buah. Keberhasilan itu menuntun ke perawatan anti penuaan. “Sudah diketahui sekarang, mutasi INDY mempengaruhi proses metabolisme lalat buah dan orang bisa melakukan intervensi dengan obat-obatan dan dapat memanipulasi gen,” katanya. Penemuan Helfand dan sejawatnya dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Science.

Setelah Helfand bisa memutasi gen INDY dan lalat buah bisa hidup lebih makin panjang, kemudian ia mencari mekanisme bagaimana itu bisa terjadi. Mutasi yang dilakukan Helfand membuat kehidupan lalat buah bisa meningkat dari 35 hari menjadi 70 hari.

Penelitian tersebut menemukan, agar mutasi INDY dapat memperpanjang kehidupan adalah melihat perubahan molekular antara lalat Indy dengan lalat normal dalam keseluruhan kehidupannya Dengan membandingkan level gen, mereka berhasil menemukan penemuan penting. Beberapa gen yang berhubungan dengan kekuatan untuk menghasilkan kehidupan di sel normal, lebih rendah pada lalat INDY.

Intervensi itu mengurangi radikal bebas dan kerusakan yang biasanya terjadi pada sel, tetapi yang mengejutkan tidak mengurangi keseluruhan energi di sel. Penelitian itu menyediakan bukti kemungkinan melakukan intervensi yang dapat mempengaruhi metabolisme untuk mengurangi radikal bebas atau kerusakan akibat keracunan dan memperpanjang kehidupan.

Sebuah Harapan Panjang Usia

Dari hasil penelitian diatas, memunculkan harapan manusia bisa berumur panjang. Penelitian menunjukkan kebiasaan hidup sehat membantu manusia memperpanjang usia dengan cara :

  1. Kreatiflah dalam bekerja. Menurut penelitian, orang yang bekerja di bidang kreativitas yang telah memperbaiki kesehatan kardiovaskular dengan usia enam tahun lebih muda.
  2. Pastikan Anda mengkonsumsi makanan dan minuman sehat (Gambar 2). Mengkonsumsi dengan sayur-sayuran dan buah-buahan yang mencukupi, aktif berolah raga, tidak merokok, dan tidak minum alkohol.
  3. Melakukan sesuatu yang membuat Anda bahagia. Studi yang dilakukan Universitas College London menemukan bahwa orang yang merasa bahagia mempunyai tingkat protein C-reaktif dan interleukin-6 lebih rendah, serta tanda peradangan yang terkait dengan penyakit jantung yang lebih rendah.
  4. Yang terakhir kebiasaan hidup yang bahagia dan alamiah akan mengurangi stres, dan berserah diri kepada Tuhan YME, sebagai sifat yang dimiliki oleh manusia-manusia tertua didunia dalam perjalanan hidupnya (Guinness Book of World Records).

About The Author

Taruna Ikrar

Dr. Taruna Ikrar, M.Pharm., MD., Ph.D. lahir di Makassar, 15 April 1969 adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Indonesia dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf. Di dunia Internasional, ia lebih dikenal sebagai salah satu peneliti yg mempopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor) dalam tulisan yang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers of Neural Circuit edisi 20, Januari 2012 . Saat ini Dr Ikrar merupakan salah satu tim spesialis dan analis di University of California, School of Medicine, Irvine, CA, USA

Leave a Reply